Dukungan Gus Yusuf ke Sudirman Said Viral di Medsos


Pemungutan suara untuk Pemilihan Gubernur Jawa Tengah tinggal beberapa hari lagi. Tensi politik dan persaingan makin meningkat. Masing-masing pendukung pasangan calon terus bekerja keras meyakinkan publik agar memilih jagoannya. Tidak jarang cara keji dan kotor pun digunakan.

Terheboh adalah adanya rekaman video viral, dimana ada percakapan beberapa anak muda yang mengaku sebagai kerabat kemenakan Sudirman Said. Mereka menjelek-jelekan pribadi Pak Dirman. Namun setelah ditelusuri dan dilakukan investigasi, ternyata mereka bukan kerabat Pak Dirman. Mereka melakukan fitnah keji karena suruhan seseorang yang diduga petinggi salah satu partai.

Ada juga pemelintiran fakta dan berita seputar keberadaan PKS (Partai Keadilan Sejahtera) dalam koalisi Sudirman Said - Ida Fauziyah. Dukungan PKS pada pasangan nomor urut 2 ini dijadikan alat untuk menggembosi soliditas NU (Nahdhatul Ulama) dan PKB (Parta Kebangkitan Bangsa) dalam memenangkan SS-IDA.

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dan mendengar langsung penjelasan gamblang soal ini dari KH. Yusuf Chudhori (Gus Yusuf), Pengasuh Pondok Pesantren API (Asrama Perguruan Islam) Tegalrejo, Magelang, yang juga menjabat sebagai Ketua DPW PKB Jawa Tengah.

"Hari-hari ini umat Islam Indonesia sedang difitnah dan diadu domba" Gus Yusuf mengawali penjelasannya.

"Saya perlu menjelaskan dan meluruskan kesalahpahaman beberapa orang NU (kalangan Nahdhiyin) tentang keberadaan PKS dalam koalisi pendukung Pak Dirman - Bu Ida Fauziyah pada Pilgub Jawa Tengah" lanjut Gus Yusuf.

Pada hari Selasa, 9 Januari 2018, PKB dan Partai Gerindra sepakat berkoalisi dan mendeklarasikan pasangan Cagub - Cawagub Jawa Tengah, yaitu Bapak Sudirman Said dan Ibu Ida Fauziyah. Deklarasi digelar di kantor DPW PKB Semarang, dengan dihadiri jajaran DPP PKB seperti Bapak Marwan Ja'far dan Bapak Danhil Johan.

Baru malamnya masuk dukungan dari PAN dan PKS, kalau dalam istilah shalat jama'ah, keberadaan PKS adalah makmum masbuk (makmum yang datang mengikuti imam setelah shalat dimulai). Karena PKS tidak ikut pada saat deklarasi hari Selasa (9/1) di Kantor DPW PKB.

Kemudian besoknya, Rabu 10 Januari, pasangan Pak Dirman Bu Ida Fauziyah moendaftar ke KPUD Jawa Tengah. Sebelum berangkat ke Kantor KPUD, pasangan SS-IDA sowan ke pengurus PWNU Jawa Tengah meminta doa restu dan dukungan.

SS-IDA diterima langsung dan didoakan oleh Ketua PWNU Jawa Tengah, Prof. Abu Hasbin. Jadi pasangan SS-IDA ini jelas dan pasti miqat-nya (titik awal). Dideklarasikan oleh PKB bersama Gerindra di Kantor DPW PKB, berangkat menuju KPUD dari Kantor PWNU Jateng, singgah shalat berjamaah di Masjid Baiturrahman Semarang.

Nah, dengan fakta dan kenyataan seperti tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa jagonya PKB /NU didukung oleh PKS, bukan sebaliknya. Jadi bukan PKB / NU Jateng mendukung PKS.

"Masa para kyai dan santri tidak bisa membedakan antara isim FAA'IL dan isim MAF'UL ?" demikian penjelasan Gus Yusuf.

Masa kalangan santri dan nahdhiyin yang tergabung dalam organisasi di bawah NU tidak bisa membedakan antara subyek dan obyek ? Jelas beda antara didukung dan mendukung.

Gus Yusuf menegaskan bahwa dalam politik, terutama Pilgub maupun pilpres, kita harus meraih sebanyak-banyaknya dukungan. Karena kemenangan diukur dari banyaknya suara, banyaknya "biting" (lidi) yang mencoblos jagoannya.

Dalam urusan biting, tidak ada bedanya antara kyai dan santri, antara profesor dan mandor, kaya miskin, rakyat pejabat, ahli taat dan maksiat, bahkan antara muslim maupun non muslim dan seterusnya, nilainya sama, satu suara,

Kertas suara itu tidak punya agama, mazhab dan aliran. Siapapun yang mencoblos nilainya sama.

Gus Yusuf mengajak kalangan nahdhiyin di Jawa Tengah untuk cerdas dan menggunakan akal sehat. Jangan mau diprovokasi dan dibodohi.

Termasuk kenapa Bu Ida yang notabene kader NU /PKB tulen malah nomor dua (sebagai wakil). Jika ini menjadi alasan dan keberatan, maka silakan lihat pasangan satunya, memangnya yang sebelah jadi nomor berapa ? Jadi Cagub apa Cawagub.

Gus Yusuf menandaskan, pada intinya bukan jabatan, namun lebih pada komitmen dan keberpihakan. Pak Dirman berkomitmen untuk membela pendidikan pesanten dan madrasah diniyah dengan menghapus kebijakan 5 hari sekolah yang dibuat Gubernur terdahulu.

Pak Driman juga berkomitmen membela kaum petani dengan mencabut program Kartu Tani yang terbukti merepotkan.

Dan yang luar biasa, patut dicatat, Pak Dirman berkomitmen untuk hanya menjabat satu periode saja jika terpilih sebagai Gubernur Jawa Tengah periode 2018-2023.

Jadi, jelas sekarang. Semoga kalangan nahdhiyin dan semua organisasi di bawahnya kembai solid dan mantap mendukung pasangan Pak Dirman - Bu Ida Fauziyah...

Madhep mantep, bismillah, besok Rabu 27 Juni, pilih Sudirman Said dan Ida Fauziyah, COBLOS NOMOR 2 !

Salam Mbangun Jateng Mukti Bareng ! 

Sumber : FB

Tidak ada komentar


Pembaca SATU POST dapat mengirimkan komentar terkait artikel atau berita yang ditayangkan. Isi komentar bukan merupakan pandangan, pendapat ataupun kebijakan kami dan sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Pembaca dapat melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Kami akan menimbang setiap laporan yang masuk dan dapat memutuskan untuk tetap menayangkan atau menghapus komentar tersebut.